Menggapai Jiwa Yang Tenang

Bagikan artikel ini

Sahabat Mata Hati

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang kelak akan dipanggil Allah untuk kembali menghadap-Nya dengan penuh keridhoan, diperintahkan masuk dalam golongan hamba-hamba-Nya dan diperintahkan masuk ke dalam surga-Nya. Siapapun tentu ingin memiliki jiwa yang tenang agar mendapatkan perlakuan luar biasa dari Allah Subhanahu wata’ala

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ  ٢٧ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ  ٢٨ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي  ٢٩ وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي  ٣٠

(27) Hai jiwa yang tenang. (28)   Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (29)   Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, (30)   masuklah ke dalam surga-Ku. (QS Al-Fajr : 27-30)

 

Menggapai Jiwa Yang Tenang

  1. Ikhlas Dalam Menghambakan Diri Kepada Allah Subhanahu wata’ala

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ  ٥

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS Al-Bayyinah : 5)

Makna Ikhlas adalah menjadikan wajah Allah Subhanahu wata’ala sebagai satu-satunya tujuan dalam beribadah, maka orang yang ikhlas akan berfokus kepada tujuan dan tidak akan memperdulikan tantangan dalam mewujudkan keta’atan dan rasa penghambaan kepada Allah Subhanahu wata’ala,

  1. Bersyukur Dengan Kenikmatan

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ  ٧

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim : 7)

Makna Syukur secara harfiah adalah berterima kasih, Adapun secara istilah para ahli ilmu syukur adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kita menjadi hamba Allah dengan satu tugas saja sebenarnya yaitu beribadah, maka ibadah adalah bentuk syukur yang paling tinggi.

Coba Sahabat rasakan apakah ada rasa tenang kalau ibadah sudah ditunaikan? Ya ketenangan jiwa akan datang, karena kita menempatkan diri sesuai dengan peruntukannya. Lain halnya dengan orang yang tidak beribadah, sebelum dia mendapatkan adzab yang sebenarnya di akhirat kelak, dia akan mendapatkan adzab terlebih dahulu di dunia ini, berupa ketidak tenangan hidup, resah gelisah, gundah gulana dan sebagainya.

 

  1. Tawakkal Setelah Menyempurnakan Ikhtiar

…. وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا  ٣

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.(QS Ath-Thalaq : 3)

Tawakkal artinya menyerahkan segala urusan kepada Allah Subhanahu wata’ala setelah menyempurnakan ikhtiar, upaya yang optimal sampai dengan batas kemampuan, akan tetapi hasil tentu saja Allah yang menetapkan

Oleh sebab itu jiwa yang tenang akan tercapai apabila kita tawakkal kepada Allah, karena yakin bahwa apa yang terjadi menimpa diri adalah ketetapan terbaik menurut Allah Subhanahu wata’ala. Yang terbaik menurut Allah itu belum tentu baik dalam pandangan kita, akan tetapi jiwa yang tenang dan hati yang ikhlas akan mampu menerimanya sebagai sebuah ketetapan dari Allah Subhanahu wata’ala,

Harapan kita semuanya Sahabat Mata Hati, semoga jiwa kita semuanya menjadi jiwa-jiwa yang tenang.Aamiin

 

Bandung, 24 Februari 2021

Kajian Mata Hati

Membuka Mata Hati, Menuju Ridho Ilahi

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat (Ketua Yayasan Amal Mata Hati)

Tinggalkan Balasan

Mulai percakapan
%d blogger menyukai ini: