Mengapa Harus Ikhlas?

Bagikan artikel ini

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap manusia untuk selalu beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala. semua itu dilakukan semata-mata untuk meraih kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, manusia perlu berusaha untuk selalu melakukan amal ibadah atau perbuatan secara baik selama di dunia agar amal tersebut dapat menjadi bekal di akhirat kelak.

Namun, apakah semua perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia selama di dunia akan diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala? inilah hal yang perlu diketahui oleh setiap muslim. amalan kebaikan hanya akan diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala bila memenuhi dua peryaratan, yaitu ikhlas dan benar sesuai dengan syari’at. Melakukan amal kebaikan secara benar sesuai dengan syari’at bukanlah hal yang sangat sulit karena umat islam telah memiliki cukup pedoman (Al-Quran dan hadist) untuk melaksanakannya.

Akan tetapi, melakukan amalan tersebut dengan ikhlas bukanlah perkara mudah. Sebagian besar muslim mengetahui bahwa amalan kebajikan apapun harus dilakukan dengan ikhlas namun tidak semua muslim benar-benar memahami makna keikhlasan, batasan suatu perbuatan dikatakan ikhlas, dan manfaat ikhlas itu sendiri sehingga mereka sering terjebak pada perbuatan yang dianggap telah dilakukan dengan ikhlas padahal mungkin ada motivasi lain yang mendasari perbuatan tersebut yang tidak disadarinya.

Ikhlas menurut bahasa berasal dari kata khalasha adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya atau mengotorinya . Dikatakan bahwa “madu itu murni” jika sama sekali tidak tercampur dengan campuran dari luar, Dengan demikian secara tekstual, kata ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor.

Adapun secara isthilahi Ikhlas berarti mengerjakan amal perbuatan lillahi ta’ala, semata-mata karena Allah, tidak karena yang lainnya. Yang diharapkan hanyalah ridha dan balasan dari Allah.

Mengapa Harus Ikhlas?

Ada tujuh alasan mengapa kita harus bersikap ikhlas dalam melakukan setiap amal perbuatan.

Alasan pertama, karena ikhlas adalah perintah Allah.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Bayyinah: 5: “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan (memurnikan) ketaatan semata-mata untuk-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.” Allah SWT juga berfirman dalam QS Al-An’am: 162-163: “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”

Alasan kedua, ikhlas merupakan manifestasi tauhid.
Karena itu para ulama menyebut riya’ sebagai syirik yang tersembunyi (al-syirk al-khafiyy). Karena orang yang riya’ berarti telah menyekutukan Allah dalam niatnya, menyekutukan Allah dalam peruntukan ibadahnya.

Alasan ketiga, ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal.
Sebagaimana diketahui, syarat diterimanya amal ada dua: ikhlas dan benar. Jika salah satu saja dari kedua syarat ini tidak terpenuhi, suatu amalan tidak akan diterima oleh Allah. Dalam QS Al-Kahfi: 110 Allah SWT mengisyaratkan dua syarat tersebut: “Maka barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah ia beramal dengan amalan yang benar (shalih) dan ia tidak menyekutukan ibadah kepada Tuhannya dengan sesuatupun.”

Alasan keempat, keikhlasan menentukan nilai amal kita.
Innamal a’malu bin niyyat, amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Wa innama likullimri-in ma nawa, setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan niatnya.

Alasan kelima, keikhlasan akan menyelamatkan kita dari godaan syetan.
Ini sesuai dengan pengakuan Iblis Sang Penghulu Syetan itu sendiri, yang diabadikan dalam QS: 79-83: “Iblis berkata: Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)”. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.

Alasan keenam, tidak adanya keikhlasan akan mencelakakan kita di akhirat nanti.
Yang lebih celaka lagi adalah jika kita sewaktu beramal di dunia ini tidak menyadari bahwa kita tidak ikhlas. Karena itulah Rasulullah saw memberi tuntunan agar kita setiap pagi dan setiap petang berdoa sebagai berikut: “Allahumma inni a’udzu bika min an usyrika bika syaian a’lamuh, wa astaghfiruka lima laa a’lamuh (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu sedangkan aku mengetahui. Dan aku mohon ampun kepada-Mu dari yang tidak aku ketahui).”

Alasan ketujuh, keikhlasan akan mendatangkan kekuatan.
Ini sesuai dengan kisah penebang pohon yang disampaikan oleh Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya. Dalam hadits tersebut dikisahkan tentang seorang dai yang hendak menebang pohon yang dijadikan berhala oleh penduduk sebuah kampung. Sang dai hendak menebang pohon itu karena Allah. Ketika Iblis berusaha menghadang sang dai dan keduanya berkelahi, kalahlah Iblis. Namun Iblis sesudah itu melakukan tipu daya. Ia membujuk sang dai agar tidak usah lagi berusaha menebang pohon, dengan kompensasi bahwa Iblis akan memberi sang dai sejumlah uang setiap pagi, yang diletakkan dibawah bantal sang dai. Namun setelah beberapa lama uang itu diberikan, suatu saat Iblis tidak lagi memberikan uang. Marahlah sang dai, dan diambillah kapaknya. Ia berangkat dengan marah untuk menebang kembali pohon tersebut. Iblis pun kembali menghadangnya, kedua kembali berkelahi, namun kali ini sang dai yang dikalahkan oleh Iblis. Sang dai kalah karena kali ini tidak ikhlas karena Allah, tetapi karena sejumlah uang. Ia marah karena Iblis tidak lagi memberinya uang.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat (Ketua Yayasan Amal Mata Hati)

Tinggalkan Balasan

Mulai percakapan
%d blogger menyukai ini: