Legacy

Bagikan artikel ini

Di antara cita-cita saya adalah meninggalkan legacy berupa pondok pesantren, oleh sebab itu walaupun tertatih-tatih dan dalam keterbatasan terus berupaya agar Pesantren MAQI, pesantren yang dirintis sejak lama ini bisa tetap bertahan. Alhamdulillah Allah memberikan pertolongan melalui keikhlasan kaum muslimin dan muslimat yang telah membantu operasional pesantren gratis ini.

Saat ini pesantren belum sampai pada ukuran ideal untuk disebut sebagai sebuah pondok. Tempat masih ngontrak sehingga yang disebut pesantren ya sebuah rumah kontrakan yang merangkap sebagai sekretariat Yayasan, asrama bagi santri mukim, bahkan ruang belajar di bawah seringkali beralih fungsi jadi tempat jemuran untuk para santri.

Akan tetapi harapan pesantren  berkembang dan menjadi besar, selalu terpatri dalam hati, walaupun belum terlihat bagaimana bisa merealisasikan harapan tersebut. Namun semoga Allah Ta’ala mengabulkannya. Karena jika Dia berkehendak maka tiada yang mustahil bagi-Nya.

Terinspirasi oleh pemain sepak bola Muslim klub Liverpool asal Senegal yaitu Sadio Mané yang telah meninggalkan legacy-nya berupa sekolah, rumah sakit, dan lain-lain.

Kata Hati

Sadio Mane membangun sebuah sekolah di desanya, Bambali di Senegal dengan € 270.000.  Dia membangun rumah sakit dan membiayai stadion untuk rakyatnya. Dia membagikan 50.000 Franc CFA kepada keluarga di desanya setiap bulan. Dia juga membagikan kit untuk anak-anak.

Semoga Allah memberkahinya.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat (Ketua Yayasan Amal Mata Hati)

Tinggalkan Balasan

Mulai percakapan
%d blogger menyukai ini: